Friday, August 26, 2011

Sarik Laweh dalam gambar

Antara tanggal 19 sampai dengan 22 Agustus 2011 lalu saya  pulang  ke kampung halaman saya Sarik Laweh. Suda lebih dari tiga tahun saya tidak menginjakkan kaki negeri ini. Rasa rindu senantiasa menggoda saya untuk segera pulang walau kondisi saya belum begitu terasa pas benar. Tapi kadung telanjur di tertuang dalam target goal saya tahun ini bahwa saya harus sampai di Sarik Laweh, saya putuskan untuk tetap pulang.Sekaligus bersilaturahmi di bulan Ramadhan 1432H.

Saya  meninggalkan Sarik Laweh sejak tahun 1983 lalu, sudah lebih dari 28 tahun.  Kini semua sudah berubah kecuali bukit dan lembahnya. Pepohonan, rumah dan bangunan serta orang-orangnya juga berubah. Pada saat saya tinggalkan rumah penduduk sebagian besar masih berupa rumah kayu, hanya beberapa saja yang sudah membangun rumah beton. Banyak rumah adat  bergonjong berdiri di tengah-tengah kampung. Sekarang, hampir tidak ada lagi rumah kayu, tidak ada lagi rumah adat, yang ada hanyalah rumah beton dengan berbagai corak dan gaya bangunan. Modelnya mengikuti corak minimalis dengan model bertingkat. Rumah sekarang besar-besar dan moderen. Yang menarik, mereka sekarang sudah mulai menggunakan bahan alumunium truss sebagai bahan kasau pengganti kayu. Di Tarok saya melihat ada sebuah rumah mewah sedang dibangun, kalau menurut ukuran di Jakarta rumah itu minimal berharga sekitar 2 milyar. Di dalam kampung saya melihat begitu banyak mobil diparkir di garasi dan di halaman rumah. Wah, dulu tidak ada satupun mobil kalaupun ada itu adalah bis angkutan umum yang menunggu penumpang. 

Melihat kondisi ini saya bersyukur bahwa kampung halaman saya juga ikut menikmati kemajuan bangsa ini. Bahkan rasanya kemajuan yang mereka nikmati jauh lebih baik dari yang bisa dinikmati oleh masyarakat di daerah lain. Saya sudah berkunjung ke hampir seluruh propinsi di wilayah Indonesia, saya melihat tidak banyak wilayah desa yang mengalami kemajuan seperti yang dirasakan oleh orang kampung saya. Saya yakin kondisi seperti ini tidak hanya terjadi di kampung saya saja tapi hampir di seluruh kampung di ranah Minangkabau.

Ekonomi rakyat desa tumbuh pesat. Sawah yang menjadi andalan karena semakin produktif dan hasilnya semakin tinggi seiring dengan kenaikan harga gabah. Harga komoditi sampingan seperti cokelat, kopi, pinang, sawit dan karet  juga semakin tinggi. Ada sumber penghasilan baru berupa tambang pasir dan kerikil (sirtu) dari sungai Batang Lampasi. Ekonomi desa juga banyak ditopang dengan "devisa" yang dikirimkan oleh para perantau yang tersebar hampir di seluruh wilayah nusantara. Bisa jadi sekarang ini penduduk di desa lebih sejahtera dari penduduk kota.
Berikut ini gambar-gambar dari sudut-sudut Sarik Laweh. Saya berharap dengan gambar-gambar ini dapat menggugah para perantau untuk pulang kampung, amiin.


Sawah luas subur menghijau di daerah Sungai Baringin, Bonda Tuk Ompok, Mato Aie dan Ngorik. Gambar ini di ambil dari pematang sawah Sungai Baringin


Aktifitas penambangan pasir di pinggir sungai Batang Lampasi. Sumber penghidupan baru bagi rakyat. Ada jutaan kubik pasir ada di sepanjang sungai ini. Setiap hari puluhan truk datang mengangkut pasir untuk di jual di wilayah kabupaten Agam dan Bukittinggi. Tempat penambangan pasir ada di tiga tempat. Pertama di Baruah Andaleh, Sawah Padang dan di Kubu Rawang yang sudah masuk wilayah Sungai Belantik. Ratusan juta devisa masuk setiap bulannya. Selain sumber ekonomi, untuk jangka panjang perlu pula dipertimbangkan dampak kerusakan lingkungan. Di beberapa tempat sudah terjadi kerusakan alam akibat semakin turunnya dasar sungai karena terkikis  sehingga menimbulkan tebing-tebing curam yang merobohkan dinding sawah.



Sawah masih menjadi sumber penghasil utama bagi masyarakat Sariklaweh. Untuk kecamatan Akabiluru wilayah ini menjadi gudang beras. Ada ratusan hektar sawah membentang mulai dari Sungai Baringin di Koto Malintang sampai ke Surou Toruang sebelah timur. Meski telah diolah selama ratusan tahun tampaknya tanahnya tetap subur. Lihatlah betapa rimbun dan suburnya sawah ini.


b
Batang Lampasi adalah hulu sungai batang Sinamar yang bermuara di pantai timur Sumatera. Di musim hujan airnya cukup besar rata-rata ke dalaman airnya sekitar setengah meter. Sungai ini menjadi sumber kehidupan  terutama untuk sumber air minum ternak. Tempat mencari ikan. Ada beberapa jenis ikan yang berhabitat di sungai ini seperti baung, bansai, lonjiang, kapore dan udang. Selain itu ada juga beberapa jenis ikan seperti mujair, emas dan gurame yang biasa di pelihara di kolam.
Batang lampasi airnya jernih dan belum terkena polusi sehingga sangat bagus sebagai tempat bermandi bagi anak-anak. Di beberapa tempat kedalamannya bisa mencapai 1 meter bisa menjadi tempat yang mengasikkan untuk mencebur bagi anak-anak. Sewaktu kecil saya paling sering menghabiskan waktu mandi di sungai ini. Bermain kejar-kejaran dengan teman-teman. Bermain pasir di pinggirnya.


Sorou Mato Aie. Ini adalah bangunan surau/musola yang didirikan oleh alhmarhum Haji Muhammad Jamil Al Khalidi salah seorang ulama pejuang syiar Islam di wilayah ini. Surau ini umurnya sudah hampir 150 tahun tapi masih berdiri. Kondisinya sudah tidak bisa ditempati lagi, dinding dan lantainya yang terbuat dari kayu sudah lapuk dan tinggal menunggu rubuhnya saja. Pernah diusahakan untuk merenovasi surau ini oleh keturunan beliau tapi nampaknya sulit karena bahan bangunannya semua terbuat dari kayu dan sudah rusak semua.Selain itu ada kendala mengenai status kepemilkan tanah tempat bangunan ini beridiri. Mungkin untuk mempertahankan bangunan asli sulit tapi yang perlu dipikirkan adalah mengganti dengan bangunan baru sehingga syiar yang sudah dibangun dapat dapat terus berjalan.


Mesjid Al Istiqomah Koto Baru. Mesjid ini sudah mengalami banyak sekali renovasi sehingga sampai pada bentuknya yang sekarang ini. Kapasitas mesjid ini sekitar 500 jemaah. Mesjid ini juga tempat berkumpulnya masyarakat. Setiap hari Jumat biasanya wali Jorong (pak Kades) menyampaikan pengumuman kepada seluruh jemaah karena hampir 100% laki-laki di kampung itu hadir.
Dinding mesjid saat ini sudah dilapisi dengan keramik berwarna kuning muda. Waktu saya kecil ada kolam mandi yang cukup besar berada di samping sebelah selatan mesjid, airnya cukup dalam mungkin sekitar 1 meter tempat orang mengambil wudhu. Di ujung kolam ada menara, kami menyebut bandarop tinggi mungkin  sekitar 30 meter. Tiangnya terbuat dari kayu besar kami menyebutnya tunggak macui. Untuk mencapai ke puncak melalui tangga yang berbelok-belok. Di puncaknya tempat muazim mengumandangkan azan. Muazin yang terkenalnya namanya Baidi almarhum. Ini sebelum adanya tekologi microphone pada awal tahun 70an.


Meski cuaca kurang cerah, tapi alhamdulillah saya berhasil menangkap pemandangan yang begitu indah ini dari salah satu sudut desa. Tempat ini adalah sebelah timur mesjid Koto Baru dekat ke rumah nenek moyang kami di Kandang. Pemandangan ini meliputi daerah Sawah Dalam, Munggu, Sawah Tongah, Batang Sawah dan Koto Macang. Betapa indahnya hamparan sawah dengan genangan air dan padi muda dengan latar belakang perbukitan di sebelah timur. Memang benarlah kata pepatah, "kalau sayang dengan kampung cobalah tinggalkan" atau dalam bahasa Inggrisnya "look through different eyes". Dulu saya tidak menyadari betapa indahnya negeri saya, tapi setelah puluhan tahun meninggalkannya saya kagum betapa indahnya setiap sudut dari negeri ku.



Dulu jalan ini adalah jalan tanah, di musim hujan becek sekali kalau tidak hati-hati anda bisa "tajalalepok" alias kepeleset. Di malam hari begitu gelap sehingga harus menggunakan penerangan menggunakan daun kelapa. Di kiri kanan masih berupa tanah kosong dengan pohon-pohon besar. Itu dulu, sekerang beda. Lihatlah jalan ini, sudah dibeton sejak beberapa tahun lalu. Tidak gelap lagi karena desa ini sudah dialiri listrik sejak puluhan tahun lalu. Lihat pula rumah di kiri-kanan, semua adalah rumah beton. Dulu semua rumah kayu dengan ukuruann kecil.


Ketika saya selesai menjelajahi wilayah bagian bawah, saya "bersirobok" dengan uni-uni saya yang baru pulang "mamanggie" ini ada uni Nita, uni Ep dan Uni Edi. Mereka baru saja pulang mamanggie dari Baru Andaleh dan sekitarnya. Mamanggie adalah kegiatan memberitahukan bahwa anak/kemenakan yang akan menikah. Kalau di Jakarta seperti menebar undangan pernikahan. Lihatlah betapa cantik dan bersahajanya uni-uni.


Tempat yang paling tempat untuk memandangi wilayah Sarik Laweh secara keseluruhan adalah dari puncak Bokik Congking di sebelah barat atau dari atas Bukik Godang di Baruah Andaleh di sebalah timur. Saya coba untuk mengambil gambar dari Bokik Godang tapi tidak jadi karena jalan menuju puncaknya penuh semak-semak. Lihat gambar ini yang saya ambil dari puncak Bukik Congkiang, hampir seluruh jorong di Sarik Laweh terliput. Bukik Congking sendiri berada di perbatasan negara Koto Malintang dengan Koto Baru. Wilayah yang paling dekat adalah Batang Sawah masuk wilayah Koto Baru, setelah itu ada Wilayah Batu Lipai dan Sawah Tangah, Koto Macang dan Niur termasuk jorong Niur Kapalo Koto. Di bawah Bukit Godang adalah jorong Sawah Padang dan di balik Bukik Godang adalah jorong Baruah Andaleh.



Gambar di atas adalah wilayah Datar atau Data. Orang Koto Malintang menyebutnya Datar orang Koto Baru menyebutnya Data. Wilayah ini  berada di sebelah selatan di bawah kaki bukit Rimbo Godang. Rimbo Godang adalah sumber air bagi hampir seluruh wilayah Sarik Laweh. Hutannya begitu luas dan terlindungi. Sudah sejak zaman dulu rakyat dilarang menebang pohon kayu secara ilegal dari hutan ini. Rakyat hanya boleh menebang pohon seizin wali negari dan untuk untuk kepentingan umum pula. Di dalam hutan ini masih banyak hidup binatang liar seperti baribeh semacam beruang, monyek, babi hutan, kijang dan tentu saja harimau. Namun sudah beberapa tahun ini orang tidak melihat lagi tanda-tanda kehadiran harimau. Dulu setiap tahun dia pasti turun dengan menggangu hewan peliharaan warga. Tidak dapat dipastikan apakah harimau sudah punah dari hutan ini? Allahualam.


Koto Malintang adalah jorang paling barat berbatasan dengan desa Sungai Belantik. Yang unik dari Koto Malintang adalah masyarakatnya berbicara dalam dialek yang agak berbeda dengan penduduk 6 jorong yang lain. Gaya bicara mereka banyak kemiripan dengan orang Agam seperti di Baso dan Bukittinggi. Kalau di bagian wilayah lain banyak menggunkan huruf "o" mereka sering menggunakan huruh"a". Misalnya orang Koto Baru mengatakan "ola" sedangkan orang Koto Malintang mengatakan "ala" untuk mengatakan sudah.

Gambar di atas adalah bangunan mesjid Baiturahman. Sekarang jalan disekelilling jorong Koto Malintang sudah beraspal kemudian ada pula jalan kecil yang membelah kampung. Rasanya kondisi jalan di dalam kampung yang paling bagus adalah di Koto Malintang ini.

Semoga dengan foto dan sedikit narasi ini bisa membantu anda untuk melepas rindu atau sebagai informasi yang menitikkan selera anda untuk segera berkunjung ke Sarik Laweh. Amiin.

2 comments:

Unknown said...

yo rancak kampuang awak yo

Unknown said...

Simpang tigo baa ndak bamasuakan kanti..