Saturday, January 16, 2010

Bukik Godang


Sudah sejak beberapa hari ini hati ini tergerak untuk menulis tentang Bukik Godang, sebuah tempat terindah yang ada di muka bumi ini. Bukik Godang atau Bukit Besar atau Great Hill yang saya maksud adalah sebuah bukit terletak di kenagarian Sungai Belantik sebelah barat dari kampung saya Sarik Laweh di Kecamatan Akabiluru, kabupaten 50 Kota, propinsi Sumatera Barat, sekitar 20 km sebelah barat kota Payakumbuh. Saya mempunyai kenangan yang sangat indah di Buki ini. Kalau pada tahun 80an ada sebuah lagu yang dipopulerkan oleh Uci Bing Slamet berjudul Bukit Berbunga yang syairnya menceritakan tentang kisah kasih asmara antara dua sejoli di bukit berbunga, di Bukik Godang ini saya tidak mempunyai kisah asmara seperti itu. Kenangan saya di sini adalah masa-masa indah sebagai seorang bocah laki-laki. Saya menghabiskan hari-hari di bukt ini usia saya masih berkisar antara 8 sampai 11 tahun antara tahun 1974 sampai 1976.

Sebagai anak desa saya menjalankan hidup sama dengan anak-anak lainnya. Bermain sambil membantu orang tua. Banyak tugas yang harus saya jalankan tapi salah satu pekerjaan yang saya paling sukai adalah gembala kerbau. Gembala kerbau itu sangat mengsyikkan, kerbau itu bak sahabat sejati saya saja, seolah antara saya dan dia sudah terjalin ikatan. Dia tahu kapan saya pulang sekolah, dia mengeluarkan suaranya yang lucu agar saya segera membebaskannya dari kandang atau dengan membentur-benturkakan kaki dan kepalanya ke tiang kandangnya sambil menguluarkan suara, nguek, nguek... take me out now please! Kerbau juga bisa dinaiki sehingga saya sebagai tuannya tidak perlu capek-capek berjalan menyelusuri sawah ataupun ke bukit tempat padang rumput. Kerbau juga ternak yang taat aturan, dia bisa dilepas begitu saja di padang rumput dan tidak akan keluar dari wilayah yang sudah ditentukan dan ketika sore tiba dia akan pulang dengan sendirinya.
Bukik Godang adalah padang rumput paforit ayah saya, beliau senantiasa menyuruh saya untuk mengembalakan kerbau disana. Rumputnya banyak, hijau dan subur persis seperti lagu Aku Anak Gembala yang pernah dipopulerkan oleh penyanyi cilik Tasya awal tahun 2000an.


Suasana Bukit Godang yang ada sekarang sudah sangat berbeda dengan suasana waktu 35 tahun lalu itu. Sekarang Bukit Godang tidak lagi berupa padang rumput tapi sudah berubah menjadi hutan pinus. Hampir tidak ada lagi lahan yang tersisa untuk rumput. Pohon pinus ukurannyapun sudah sangat besar dan tinggi sehingga merubah wajah Bukit Godang yang dulu berwarna hijau ke kuning-kuningan. Bukik Godang tidak lagi seindah waktu itu.

Untuk membangkitkan kenangan saya terhadap Bukit Godang, saya akan mencoba menguraikannya sebagai berikut. Bukik Godang itu terletak di sebelah barat dari desa Koto Malintang jorong paling barat dari negari Sarik Laweh berbatasan dengan nagari Sungai Belantik. Bukit Godang berada di sebelah selatan dari Sungai Belantik. Bukit Godang terdiri dari 2 buah bukit yaitu Bukit Godang Ilia dan Bukit Godang Mudiak yang keduanya menyatu. Diantara kedua bukit itu ada sebuah hutan kecil yang bernama Rimbo Concang yang luasnya kira-kira hanya satu hektar. Kedua bukit ini kalau bisa dilihat dari udara mungkin akan terlihat seperti orang yang sedang tidur tengadah, seperti hole Madonna di lapangan golf Lippor Karawaci. Bukit Godang mudiak seperti bagian pinggang ke atas karena dia lebih tinggi sedangkan Bukit Godang ilia seperti kaki. Bukit Godang mudiak ditengah-tengahnya ada sebuah lembah kecil bernama Lokuak Godang, disini tumbuh-tumbuh tanaman air, dibagian bawah dari Lokuok Godang itu ada beberapa petak sawah.



Dulu, dari jauh terlihat Bukik Godang itu seperti bukit-bukit dipegunungan Alpen di Eropah, atau seperti bukit-bukit di Rotorua dekat Auckland New Zealand. Warnanya hijau ke kuning-kuningan dan terlihat sangat exotis. Bukik Godang tingginya kira-kira 150 meter dari sawah-sawah yang ada di bawahnya. Jalan menuju puncaknya melalui jalan setapak dipinggang Bukik Godang Ilia naik dari Sikabu. Ketika sampai di ujung Bukik Godang Ilia di bibir hutan Rimbo Concang,  dari sini berbelok ke kanan ke arah puncak Bukik Godang Mudiek melewati bibir Rimbo Concang di atas pematang sawah. Ketika melewati Rimbo Concang terdengar suara desiran angin dan deru daun-daun yang menakutkan. Dari situ perjalanan diteruskan naik menyelusuri punggung bukik melalui jalan setapak yang juga merupakan jalur air ketika hujan turun. Rumput hijau terbentang di kiri kanan jalan, disela-sela pohon jirak, batang sialahan, rumpun pimpiang dan pohon-pohon kecil lainnya. Tidak ada pohon besar diatas punggung Bukik Godang. Jarak dari Rimbo Concang sampai ke puncak sekitar 250 meter.
Persis di puncak Bukik Godang Mudiak ada sebuah batu yang ditanamkan yang disebut dengan Tunggak Pela, di batu ini tertulis Yon 131 nama kesatuan tentara yang bermarkas di Payakumbuh.

Udara terasa sangat sejuk ketika berada di puncak Bukik Godang, tak peduli jam berapapun anda berada di sana. Dari atas puncak Bukik Godang anda serasa berada di puncak dunia karena dari sana bisa memandangi dunia luas di sekelilingnya.
Di sebelah barat nun di ujung perbukitan sejauh 15 km terlihat negeri Pauh Sangit, Siamang Bunyi dan Suayan berbaris-baris. Terlihat pula ujung dari Parit Putih atau bukit pasir yang membelah sebagian besar kecamatan Akabiluru. Masih di sebelah barat mata anda akan tertuju pada lerang bukit yang tinggi dan terjal dan terkenal Bukit Sarang Alang yang terkenal dalam lagu Ratok Suayan, di bawahnya ada dataran hijau bernama Suraso. Ketika pandangan ditundukkan sedikit lagi akan terlihatlah negeri Sungai Belantik, di sebelah selatan ada Sidarek dengan beberapa rumah berada di tengah-tengah sawah. Di sebelah utara terlihat negeri Sungai Belantik dengan gubah mesjid dan atap beberapa buah rumah. Di sebelah utara dan semakin dekat terlihat los-los Poken Salasa pasar mingguan di negeri Sungai Belantik tak jauh dari Bukik Godang. Jika pada hari pekan, dari puncak Bukik Godang akan terdengar riuh-rendah dan hiruk-pikuk keramaian orang di pasar itu.

Sekarang mari kita alihkan pandangan kita agak ke utara, nun diujung sana terlihat Gunung Bungsu sebuah gunung kecil yang terletak di kecamatan Taeh berjarak sekitar 25 km. Semakin dekat dari situ terlihat puncak bukit barisan yang memagari nagari Simpang Sigiran sampai Balubus.
Lebih dekat lagi terlihatlah hamparan tanah datar dan hijau nan sangat luas membentang sejauh 3  km mulai dari di sebelah barat di Talago Sayak sampai di Bukik Okok di sebelah timur. Orang Sungai Belantik meyebutnya dengan Siborang sedangkan orang Sarik Laweh menyebutnya Bukik.
Di bawahnya terdapat tebing berwarna putih laksana ikat pinggang mengulur panjang dari barat ke timur. Tebing itu membentang mulai dari Parik Putiah di sebelah barat sampai ke Pokan Sotu di sebelah timur. Di sepanjang tebing itu mengalir hulu sungai batang Lampasi yang berkelok-kelok laksana seekor ular mengikuti sepanjang tebing sampai hilang di balik Bukik Tungku di paling timur.

Mari kita berbalik badan sekarang ke sebelah timur. Nun jauh di ujung sana tampak berdirik dengan gagah Gunung Sago sebuah gunung dengan ketinggian sekitar 1,000 berjarak sekitar 40 km. Warnanya biru, jika di sore hari terlihat sangat indah dengan gumpalan awan putih menggelantung di sekitarnya. Lebih dekat dari situ terlihat bukit-bukit kecil berjejer, dan semakin dekat terlihat Bukit Banta, Bukit Congkiang. Semakin dekat lagi terlihat menara mesjid dan pohon beringin besar di dekat mesjid Koto Malintang.

Di sebelah selatan, mata anda akan tertuju kepada bukit Badok dan jejeran bukit barisan yang memanjang ke timur sampai di bukit Kulit Manih, puncak bukit batu yang terletak di Batu Hampar. Kalau udara sedang cerah akan terlihat pula pucuk Gunung Merapi berwarna biru.

Entah kapan lagi kaki ini akan menapaki kembali jalan-jalan kenangan itu, menikmati keindahan dunia dari puncak Bukik Godang, mencium bau rumput, mendenar desingan angin disela-sela batang pimpiang, meneguk jernihnya air Lakuak Godang, atau meringis karena telapak kaki tertusuk duri. Atau sekedar merasakan kecemasan kalau-kalau dari balik semak muncul seekor babi hutan yang siap menyeruduk... entahlah.. Allahualam....

Catatan : gambar-gambar ini diambil dari internet, mohon permisi kepada pemilik aslinya. Terima kasih

3 comments:

Delfa sofyen said...

Bukik Godang
Bercerita tentang bukik godang generasi kami juga mempunyai masa yang indah disana. Hamparan rumput hijau menyelimuti bukit ini seperti permadani, di beberapa tempat terlihat gundukan belukar dan rumpun pimpiang tempat dimana burung puyuh dan bondol bersarang. Puluhan anak-anak asyik bermain sambil bergembala diantaranya manangkuah burung bondol dan jerat burung puyuh, serta ada juga yang bermain seluncuran pakai pelepah pinang dan kelapa. Ketika musim padi menguning kegiatan ini mengarah pada proses menangkap burung karena musim ini burung terlihat sangat banyak.
Manangkuah adalah suatu cara menangkap burung dengan jaring yang terbuat dari serat daun nanas yang dikerok pakai kaca kemudian dikeringkan dan diambil benang-benangnya. Jaring ini nyaris tidak berbeda dengan jerami atau rumput bahan pembuat sarang burung ini, dengan menggunakan mal terbuat dari kayu jaring dimasukan kedalam sarang . Sambil menunggu burung balik kesarangnya kami sering mengisi waktu dengan berseluncur dengan pelepah pinang ataupun pelepah pohon kelapa. Dengan menyandang kendaraan ini kami menaiki puncak bukit dan kemudian berlomba dengan kecepatan tinggi berseluncur menuruni bukit, tak sedikit diantara kami yang mencebur kedalam bandar/selokan yang ada di kaki bukit karena tidak mahir menghentikan kendaraannya di garis finih. Andrenalin kami menggelegak diantara impian jadi juara dan masuk bandar, rasa inilah yang memikat bagi anak-anak yang tidak bergembala untuk ikut bermain ke bukit ini ditambah lagi setelah capek berseluncur kami kembali melihat tangkuah yang di pasang tadi, antara harap dan cemas mendapatkan seekor burung bondol kami mulai mengendap-endap mendekati sarang yang tadi dipasang tangkuah, ketika jaring ini membuahkan hasil, rasa gegap gempita mehiasi warna muka kami. Bukan hanya ini agak jauh diantara hamparan sawah terdapat lembah dalam yang ditumbuhi pohon tarok, kami sering mencari biji ini untuk direndang sebagai penganan diwaktu mengaji di surau pada malam harinya.

Unknown said...

Bukik Godang; alam takombang jadi guru...bukik godang pun begitu
Terimo kasih da Taufik and Yen, sudah menulis.
"Sekolah bisnis"... Bukik Godang, mengingatnya akan selalu pakai otak kanan...

Delfa sofyen said...


Otak Kanan Berfungsi dalam perkembangan emotional quotient (EQ). Misalnya sosialisasi, komunikasi, interaksi dengan manusia lain serta pengendalian emosi. Pada otak kanan ini pula terletak kemampuan intuitif, kreativitas, kemampuan merasakan, memadukan, dan ekspresi tubuh, seperti menyanyi, menari, dan melukis.(sumber eksiklopedia)

Meskipun kita berbicara tentang bukik godang tapi kita dapat melihat seperti apa pengaruh lingkungan masa kecil kita terhadap kemampuan beradaptasi dimasa sekarang. Karena sebagian besar kehidupan kita adalah pelaku bisnis maka tidak dipungkiri bahwa bakat itu adalah akibat di asah oleh lingkungan dimasa lalu.Bukankah Bisnis terbangun dalam bersosialisasi,intuisi dan kreativitas ?